Nilai Tukar Petani Sulbar Januari 2019 Stabil

oleh -21 views

Mamuju,BOOKNEWS.ID_Penyampaian press release dipimpin langsung Kepala BPS sulbar, Win Rizal menyampaikan hasil survei tentang nilai tukar petani Januari 2019 di Provinsi Sulbar, yang dilaksanakan di ruang Aula BPS Prov Sulbar, Jum’at (1/2/2019).

Data yang dirilis Kepala Bidang pengolahan data, Prayitno bahwa nilai tukar petani (NTP) Sulawesi Barat Januari 2019 sebesar 110,69; naik 0,75% dibandingkan NTP Desember 2018. Selain itu NTP menurut subsektor tercatat untuk subsektor tanaman pangan NTP-P 102,69; subsektor holticultural NTP-H 117,79; subsektor tanaman perkebunan rakyat NTP-R 11 5,91; subsektor peternakan NTP-T 104,93 dan subsektor Perikanan NTN 108,28.

Hasil pemantauan harga konsumen perdesaan menunjukkan terjadinya inflasi perdesaan di Sulawesi Barat pada Desember 2018 sebesar 0,48% yang secara umum “dipicu oleh seluruh indeks harga kelompok pengeluaran yang mengalami peningkatan”,

” inflasi di daerah perdesaan terjadi di 25 provinsi di Indonesia, tertinggi di Kalimantan Selatan sebesar 1,02% dan tereandah di Yogyakarta sebesar 0,02% sedangkan 8 provinsi lainnya mengalami deflasi, tertinggi di Gorontalo sebesar 0,61 dan terendah di DKI Jakarta sebesar 0,05.Sulawesi Barat menempati urutan ke 15 dari 25 provinsi yang mengalami inflasi perdesaan”.

Win Risal manambahkan bahwa secara umum yaitu terjadi deflasi sebesar minus 0,05 artinya Memang secara umum sumber stabil

“hanya terjadi sedikit penurunan di beberapa komoditi mungkin Hal ini disebabkan pada bulan Desember yang lalu yang ada di mana kita inflasi sebesar 0,46, kembali ke Normal harga-harga mungkin sementara untuk year-on-year kita adalah sebesar 1,24.jadi memang masih cukup kecil Kalau kita bandingkan dengan kondisi 2017 maupun 2018.

kondisi ini cukup menggembirakan, dimana awal bulan di tahun 2019 ini inflasi kita cukup stabil mudah-mudahan kondisi ini terus terjaga sehingga harga-harga bisa terkendali dan tentunya daya beli masyarakat akan semakin meningkat”,tutur Win Risal.

sudah saya sampaikan bahwa Sulbar ini cukup tinggi dengan angka 110 harga diatas 100 yang maknanya Apa maknanya bahwa petani pengeluaran atau pendapatan petani kita masih lebih tinggi dengan pengeluarannya artinya petani kita masih punya margin daripada apa yang dihasilkan hanya saja kalau kita lebih dalam melihat kembali untuk perikanan Memang secara agregat dia perikanan diatas 100 artinya petani kita masih cukup Sejahtera namun tingginya di nelayan itu adalah bentuk lain tangkap sementara nelayan budidaya itu yang memang angkanya masih dibawah 100 ya lain yang perlu mungkin menjadikan perhatian khusus ya untuk para nelayan nelayan budidaya gitu atau nelayan Tambak itu untuk meningkatkan kesejahteraannya agar paling tidak apa yang dihasilkan ya produksi mereka lebih tinggi dari pada pengeluarannya itu yang yang perlu kita perhatikan bersama Ya saya pikir ini udah menjadi wilayahnya inilah kalau Bagaimana caranya itu pasti semua apa namanya maupun instansi yang terkait dengan masalah perikanan ini akan melakukan langkah-langkah yang lebih konkrit,

nilai tukar petani itu salah satunya proxy bahwa kegiatan petani sebetulnya di pedesaan gitu cukup baik, cuma kalau berbicara kemiskinan ada beberapa ukuran lagi.

lebih-lebih secara konsep mungkin masuk dalam kategori penghitungan kemiskinan nah artinya gambaran itu  masih merupakan salah satu indikasi, namun lebih dalam lagi kalau kemiskinan di sana kan apalagi tadi gambarnya ya bahwa inflasi di pedesaan masih cukup tinggi sebenarnya inflasi itu dikarenakan naik turunnya garis kemiskinan dan tergantung dari inflasi yang terjadi baik di perkotaan maupun di pedesaan

“kalau inflasinya tinggi tentunya garis kemiskinan semakin tinggi berarti penduduk penduduk atau masyarakat yang memang di bawah garis kemiskinan sehingga perlu adanya upaya yang salah satu upaya pengendalian inflasi di wilayah pedesaan”,pungkas Win Risal (**/irwan)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *